Profesor yang Mengajar Trade-Off, Lalu Mendesain Trade-Off

 


Pada suatu pagi di musim gugur 2010, di sebuah ruang kuliah di Massachusetts Institute of Technology, seorang profesor berdiri di hadapan ratusan mahasiswa baru. Topik kuliah pertamanya tampak biasa: prinsip-prinsip mikroekonomi.

Tetapi ia membuka kelasnya dengan cara yang tidak biasa. Bukan dengan kurva penawaran-permintaan, bukan dengan persamaan utilitas. Ia membuka dengan satu kata: scarcity (keterbatasan, beberapa menerjemahkan dengan kelangkaan).

"Mikroekonomi pada dasarnya adalah tentang keterbatasan," katanya. "Tentang bagaimana individu dan perusahaan membuat keputusan dalam dunia yang penuh keterbatasan. Itulah mengapa ekonomi disebut the dismal science — ilmu yang muram. Karena kami selalu menunjukkan bahwa Anda tidak bisa memiliki segalanya. Anda harus menyerahkan X untuk mendapatkan Y. Dan itulah mengapa orang tidak menyukai kami."

Profesor itu, Jonathan Gruber, kemudian melanjutkan dengan contoh-contoh yang akan terasa akrab bagi mahasiswa mana pun. Haruskah Anda membawa payung pagi ini? Di satu sisi, Anda mungkin kehilangan; payungnya merepotkan untuk dibawa. Di sisi lain, seberapa pedulinya Anda menjadi basah? Itu adalah keputusan optimisasi terkendala. Haruskah Anda minum satu gelas lagi di pesta Jumat malam? Di satu sisi, ada pro dan kontra. Itu juga keputusan optimisasi terkendala.

Yang tidak diketahui mahasiswanya pagi itu adalah ini: orang yang berdiri di depan mereka, yang sedang menjelaskan tentang umbrella test dengan begitu cerdas dan ringan, adalah salah satu arsitek utama dari undang-undang yang dalam dua tahun terakhir telah mengubah hidup lebih dari 320 juta warga Amerika. Profesor mikroekonomi yang sedang mereka simak adalah orang yang sama yang merancang Patient Protection and Affordable Care Act — undang-undang yang lebih dikenal dunia sebagai Obamacare.

Dan kisah perjalanannya — dari menjelaskan haruskah Anda membawa payung di ruang kuliah, ke merancang sistem kesehatan untuk salah satu negara terbesar di dunia — adalah salah satu kisah paling menarik tentang apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh ilmu yang dijuluki muram ini.


Setiap keputusan kecil yang Anda buat hari ini

Mari mulai dari yang paling sederhana. Anda bangun pagi ini, dan langit mendung. Apakah Anda membawa payung?

Anda mungkin tidak menyadarinya, tetapi dalam dua detik sebelum memutuskan, otak Anda menjalankan kalkulasi yang persis sama dengan yang dilakukan oleh model ekonomi Gruber. Anda menimbang biaya membawa payung — beratnya, kemungkinan tertinggal di mana-mana, ketidaknyamanan — terhadap manfaatnya: probabilitas hujan dikalikan ketidaknyamanan menjadi basah. Anda tidak menuliskannya dalam persamaan. Anda hanya merasakan jawabannya dalam beberapa detik.

Inilah yang oleh Milton Friedman, ekonom Chicago, sebut sebagai as-if principle — prinsip seakan-akan. Gruber menjelaskannya dengan analogi pemain biliar profesional. Secara teknis, setiap pukulan biliar bisa dihitung dengan persamaan trigonometri yang rumit: sudut pukulan, kecepatan, momentum, gesekan kain meja. Anda bisa menyelesaikannya secara matematis. Tetapi pemain biliar profesional tidak duduk di meja dengan kalkulator. Mereka hanya tahu cara memukul bola. Mereka berperilaku seakan-akan mereka telah menyelesaikan persoalan optimisasi yang rumit itu.

Hal yang sama berlaku untuk Anda. Setiap kali Anda memutuskan apakah akan membeli edisi keempat buku teks yang sudah bekas dengan harga lebih murah atau edisi kelima yang baru dengan harga lebih mahal, Anda sedang melakukan optimisasi terkendala. Anda menimbang preferensi (seberapa besar Anda ingin informasi terbaru?), keterbatasan (berapa banyak uang yang Anda miliki?), dan harga pasar (selisihnya berapa?). Lalu Anda memutuskan.

Anda mungkin berpikir, ini terdengar bodoh. Saya tidak berpikir seperti itu. Saya hanya membeli buku. Tetapi itulah inti dari as-if principle: Anda tidak harus berpikir secara eksplisit dengan kerangka yang sama. Anda hanya perlu berperilaku seakan-akan Anda melakukannya. Dan ekonom akan menemukan bahwa keputusan Anda — keputusan kita semua, kolektif — akan secara konsisten mengikuti pola yang dapat diprediksi dan dimodelkan.


Tiga pertanyaan, satu jawaban yang elegan

Skala diperbesar. Bukan lagi keputusan satu orang tentang payung, tetapi keputusan seluruh masyarakat tentang apa yang harus diproduksi. Inilah yang Gruber sebut sebagai tiga pertanyaan fundamental mikroekonomi:

Pertama, barang dan jasa apa yang harus diproduksi? Apakah sebuah masyarakat harus memproduksi lebih banyak mobil atau lebih banyak vaksin? Lebih banyak iPhone atau lebih banyak rumah susun?

Kedua, bagaimana cara memproduksinya? Dengan teknologi tinggi yang hemat tenaga kerja, atau dengan teknologi sederhana yang menyerap banyak pekerja? Dari bahan baku lokal atau impor?

Ketiga, siapa yang mendapatkannya? Apakah barang yang langka harus dialokasikan ke yang paling kaya, yang paling membutuhkan, atau yang paling pertama mengantri?

Yang menakjubkan, kata Gruber kepada kelasnya, adalah ketiga pertanyaan ini — tiga pertanyaan yang menggerakkan seluruh ekonomi global — diselesaikan melalui satu variabel kunci tunggal: harga.

Mari ambil contoh yang ia berikan: iPod, ketika Apple pertama kali mempertimbangkan untuk membuatnya. Apple harus bertanya, akankah konsumen menginginkan ini? Konsumen, dengan sumber daya mereka yang terbatas, harus memutuskan: maukah mereka mengorbankan sesuatu yang sudah mereka beli untuk membeli iPod? Jika harganya 300 dolar — dan saat itu 300 dolar bermakna sesuatu — maukah mereka membayar segitu? Sinyal harga yang konsumen kirimkan kembali ke Apple — mau atau tidak mau — adalah cara pasar memberi tahu Apple apakah produknya layak dibuat.

Kemudian Apple harus memutuskan: bagaimana memproduksinya? Dengan mencari di berbagai negara, harga chip, harga monitor, harga komponen. Sekali lagi, harga yang menentukan keputusan.

Dan akhirnya, siapa yang mendapat iPod? Mereka yang bersedia membayar harga yang Apple tetapkan. Yang lain tidak.

Itu adalah versi sederhana dari pasar yang berfungsi. Tetapi Gruber, dengan jujur, langsung menunjukkan contoh di mana pasar tidak berfungsi dengan elegan: tiket konser. "Berapa banyak dari kalian yang pernah mengantri untuk mendapatkan tiket konser?" tanyanya ke kelasnya pada 2010. Beberapa tangan terangkat. "Jika saya bertanya pertanyaan yang sama 30 tahun yang lalu, 90 persen tangan akan terangkat."

Apa yang terjadi? StubHub. Ticketmaster. Pasar sekunder. Antrean panjang yang dulu menjadi cara mengalokasikan tiket konser Cars, atau di Indonesia tiket sepak bola final SEA Games, telah digantikan oleh mekanisme harga. Tiket sekarang dialokasikan tidak kepada yang paling bersedia mengantri, tetapi kepada yang paling bersedia membayar.

Ini perubahan yang halus tetapi mendalam. Antrean adalah salah satu cara mengalokasikan barang langka. Harga adalah cara lain. Dalam beberapa kasus, kedua sistem bekerja sama. Dalam kasus lain, mereka bertabrakan. Pertanyaannya bukan mana yang lebih efisien — ekonom hampir selalu menjawab harga. Pertanyaannya adalah: efisiensi untuk siapa?


Ginjal seharga lima juta dolar

Gruber kemudian menyodorkan contoh yang dengan elegan memaparkan batas-batas pasar. Beberapa tahun sebelum kuliahnya, seseorang mencoba melelang ginjalnya di eBay.

Iya, ginjal. Tubuhnya sendiri. Logikanya sederhana: "Saya punya dua ginjal, saya hanya butuh satu. Bayar saya untuk terbang ke mana pun Anda butuhkan, lakukan operasi, ambil ginjal saya, dan kita selesai."

Harga pembukaan: 25.000 dolar. Lelang berlangsung. Penawaran terus naik. Sampai 100 ribu. Sampai 500 ribu. Sampai satu juta. Akhirnya, ketika harga mencapai lima juta dolar — sekitar Rp80 miliar dengan kurs hari ini — eBay menghentikan lelang. Mereka membuat peraturan baru: Anda tidak bisa melelang bagian tubuh di eBay.

Pertanyaannya, kata Gruber, dapat dipecah menjadi dua. Yang pertama adalah positif: mengapa harga ginjal naik begitu tinggi? Jawabannya elegan: permintaan tinggi (orang akan mati tanpa ginjal — mereka rela membayar seluruh kekayaan mereka), penawaran rendah (sedikit donor organ yang tersedia). Permintaan tinggi + penawaran rendah = harga melonjak. Inilah Adam Smith dengan paradoks air-berliannya pada 1776: air sangat penting untuk hidup tetapi murah karena melimpah; berlian tidak penting untuk hidup tetapi mahal karena langka.

Pertanyaan kedua jauh lebih sulit. Itu adalah pertanyaan normatif: haruskah eBay membiarkan lelang itu berlangsung?

Di satu sisi, ada argumen libertarian yang kuat. Saya punya dua ginjal. Saya hanya butuh satu. Jika ada seseorang yang sangat kaya dan sangat butuh ginjal — bukan untuk koleksi, tetapi untuk hidup — mengapa saya tidak boleh menjualnya? Saya menjadi lebih kaya. Mereka tetap hidup. Transaksi ini, secara teknis, membuat kedua belah pihak lebih bahagia.

Di sisi lain, mahasiswa Gruber dengan cepat menemukan keberatan-keberatannya. Pertama, ada masalah substitusi: jika saya menjual ginjal saya kepada orang kaya, itu adalah satu ginjal yang tidak akan masuk ke pusat transplantasi untuk orang miskin yang sekarat. Kedua, ada masalah kebijaksanaan keputusan: jika saya bisa mendapatkan dua juta dolar untuk ginjal saya, saya mungkin tergoda untuk menjualnya bahkan jika ginjal yang tersisa berisiko gagal — dan saya akan menyesalinya nanti. Ketiga — dan ini yang paling dalam — ada masalah keadilan: sebagai masyarakat, kita mungkin tidak mau hidup di dunia di mana orang kaya punya "jalur tol" untuk mendapatkan ginjal yang orang miskin tidak punya.

"Kita mungkin sebagai masyarakat merasa tidak adil bahwa orang kaya bisa mendapatkan sesuatu yang orang miskin tidak bisa. Mungkin ada komponen ekuitas murni di sini."

Yang menarik, Gruber tidak memberikan jawaban definitif. Ia mempresentasikan trade-offnya. Ia menunjukkan bahwa pasar bisa sangat efisien dalam mengalokasikan barang — tetapi efisiensi pasar selalu bersaing dengan nilai-nilai lain: keadilan, dignifikasi, kebijaksanaan, kesetaraan. Dalam beberapa kasus, kita rela mengorbankan sedikit efisiensi demi nilai-nilai itu. Dalam kasus lain, kita tidak rela.

Bagi Indonesia, contoh ini mengingatkan pada perdebatan kita sendiri tentang batas-batas pasar. Haruskah pendidikan sepenuhnya gratis, atau haruskah ada biaya yang menyaring? Haruskah BBM disubsidi sehingga semua orang membayar harga yang sama, atau haruskah harganya mengikuti pasar internasional? Haruskah kursi kelas eksekutif kereta cepat dialokasikan pertama-tama kepada yang paling cepat memesan, atau kepada yang paling bersedia membayar premi? Setiap pilihan kita adalah pernyataan tentang nilai-nilai apa yang kita prioritaskan, bukan hanya kalkulasi tentang apa yang paling efisien.


Skala diperbesar lagi: APBN Indonesia

Sekarang mari kita perbesar skala lebih jauh. Bukan keputusan satu orang. Bukan keputusan eBay. Tetapi keputusan sebuah negara untuk 280 juta penduduk.

APBN Indonesia tahun ini mencapai sekitar Rp3.600 triliun. Setiap rupiah dari uang itu dialokasikan ke sebuah pilihan, bukan pilihan lain. Tambah anggaran kesehatan? Kurangi sesuatu di tempat lain. Bangun jalan tol baru? Tunda pembangunan sekolah. Subsidi BBM? Kurangi dana untuk bansos. Setiap kebijakan adalah trade-off.

Ambil subsidi BBM, salah satu pos terbesar dalam APBN. Pada 2022, ketika harga minyak global melonjak akibat invasi Rusia ke Ukraina, subsidi BBM Indonesia melonjak ke level yang nyaris tak tertahankan — sekitar Rp502 triliun, atau hampir seperempat dari seluruh belanja APBN. Pemerintah dihadapkan pada pilihan klasik dalam mikroekonomi: terus menekan harga di bawah harga pasar (menyenangkan konsumen, tetapi membakar anggaran negara), atau membiarkan harga naik (menyakitkan dalam jangka pendek, tetapi menyehatkan dalam jangka panjang).

Logika Gruber bekerja persis sama dengan kasus tiket konser. Ketika harga ditekan di bawah harga pasar, permintaan melonjak (orang membeli lebih banyak BBM dari yang seharusnya), dan harus ada cara lain untuk mengalokasikan barang langka. Hasilnya sering kali kita kenal: antrean, keterbatasan/kelangkaan, pasar gelap, atau distribusi yang tidak efisien.

Tetapi ada twist yang menarik tentang subsidi BBM Indonesia, dan ini yang sering luput dari diskusi. Berdasarkan studi yang dilakukan Bank Dunia dan beberapa lembaga riset Indonesia, lebih dari 70 persen manfaat subsidi BBM dinikmati oleh 40 persen rumah tangga terkaya. Mengapa? Karena orang kaya memiliki lebih banyak kendaraan bermotor. Mereka mengonsumsi lebih banyak BBM. Setiap kali kita mensubsidi BBM, kita secara matematis mengirimkan transfer dari APBN ke garasi orang yang sudah kaya.

Ini adalah kasus yang persis dibahas Gruber dalam kuliahnya tentang ekuitas. Pasar yang sepenuhnya bebas akan menetapkan harga BBM mengikuti biaya marginal — tidak ada subsidi. Itu efisien, tetapi mungkin menyakitkan bagi yang miskin yang juga butuh BBM untuk angkutan umum dan distribusi makanan. Subsidi BBM rata digunakan untuk "membantu rakyat," tetapi sebenarnya membantu yang kaya. Yang efisien secara distribusi adalah bansos langsung tunai — yang menargetkan persis siapa yang butuh.

Tetapi inilah masalahnya: secara teknis, ekonom hampir bulat sepakat bahwa subsidi BBM adalah kebijakan yang buruk. Secara politik, mencabut subsidi BBM hampir selalu menyebabkan kerusuhan, demo besar, atau kalah pemilu. Mengapa? Karena manfaat subsidi nyata dan terlihat (harga BBM tidak naik), sementara biayanya tersembunyi dalam pos APBN yang tidak terlihat oleh publik. Manfaatnya konkret. Biayanya abstrak.

Inilah trade-off antara ilmu ekonomi dan realitas politik. Dan inilah, sebagaimana akan kita lihat, tantangan yang dihadapi Jonathan Gruber sendiri ketika ia akhirnya turun dari menara akademik MIT ke arena politik Washington.


Sebuah panggilan telepon yang mengubah hidupnya

Pada tahun 2003, Gruber adalah profesor mikroekonomi yang relatif tidak dikenal di luar dunia akademik. Ia telah menulis sebuah simulasi komputer untuk memprediksi bagaimana berbagai kebijakan kesehatan akan bekerja di dunia nyata. Hanya itu. Sebuah model komputer yang berputar di kantor kecilnya di Cambridge, Massachusetts.

Lalu datang panggilan telepon dari Boston. Mitt Romney, gubernur Republik Massachusetts saat itu, sedang mencoba merancang reformasi kesehatan untuk negara bagiannya. Mereka membutuhkan ekonom yang bisa memberikan data, bukan retorika. Gruber menjawab telepon itu.

Dari 2003 hingga 2006, ia menjadi arsitek utama Massachusetts Health Care Reform — yang kemudian dijuluki "Romneycare." Mekanisme dasarnya elegan, dan didasarkan persis pada prinsip mikroekonomi yang ia ajarkan: tiga kaki bangku (three-legged stool).

Kaki pertama: wajibkan perusahaan asuransi menerima semua orang, termasuk yang sudah sakit (preexisting conditions). Tetapi kalau begitu, orang sehat akan menunggu sampai sakit baru beli asuransi — dan sistem akan kolaps.

Kaki kedua, untuk menutup celah itu: wajibkan semua orang membeli asuransi (individual mandate). Tetapi kalau begitu, orang miskin tidak akan mampu beli.

Kaki ketiga, untuk menutup celah itu: berikan subsidi pemerintah kepada yang tidak mampu. Tetapi subsidi itu harus dibiayai dari mana? Pajak baru, atau realokasi anggaran.

Ketiga kaki saling mengunci. Cabut salah satunya, dan bangkunya jatuh. Itu adalah mikroekonomi tingkat tinggi diterapkan pada sistem kesehatan: trade-off yang disebarkan secara sengaja sehingga tidak ada satu pihak pun yang menanggung semua biaya.

Romneycare berhasil. Pada 2008, lebih dari 97 persen warga Massachusetts memiliki asuransi kesehatan — angka tertinggi di Amerika Serikat. Reputasi Gruber meroket di kalangan kebijakan publik. Selama kampanye presiden 2008, ia berkonsultasi dengan tiga kandidat sekaligus: Hillary Clinton, John Edwards, dan Barack Obama. Ketika Obama menang, Gruber dipanggil ke Washington.

Dari 2009 hingga 2010, ia mengunjungi Gedung Putih 21 kali. Ia bertemu Obama langsung. Ia menulis simulasi kebijakan yang menjadi dasar berbagai versi Rancangan Undang-Undang. Ia mendapat bayaran sekitar 400.000 dolar untuk pekerjaannya — angka yang kemudian akan menjadi kontroversi. Tetapi yang paling penting: kerangka tiga kaki bangku Massachusetts menjadi kerangka tiga kaki bangku nasional Amerika. Patient Protection and Affordable Care Act, yang ditandatangani Obama pada Maret 2010, pada dasarnya adalah Romneycare yang diperluas untuk 320 juta orang.

Sang profesor mikroekonomi yang mengajarkan haruskah Anda membawa payung pagi ini, akhirnya merancang sistem trade-off untuk seluruh negara.


Tetapi cerita ini punya twist yang tidak sederhana

Pada November 2014, sebuah rekaman video yang sudah berbulan-bulan tergeletak di internet tiba-tiba menjadi viral. Dalam video itu, Gruber, di sebuah konferensi akademik beberapa tahun sebelumnya, berbicara tentang bagaimana Obamacare berhasil disahkan.

Yang dikatakannya membuat dunia politik Amerika gempar:

"Jika Anda punya undang-undang yang eksplisit menyatakan bahwa orang sehat membayar masuk dan orang sakit dapat uangnya, undang-undang itu tidak akan pernah lolos... Yang dibutuhkan adalah kurangnya transparansi, ditambah kebodohan pemilih Amerika."

Kalimat itu — "the stupidity of the American voter" — meledak di televisi dan media sosial. Republikan menjuluki kontroversinya "Grubergate." Gruber dipanggil ke Kongres untuk klarifikasi. Demokrat berusaha menjaga jarak. Nancy Pelosi, ketua DPR ketika Obamacare disahkan, mengklaim ia tidak tahu siapa Gruber — meskipun ia telah menyebut nama Gruber tujuh kali di situs leadership-nya sendiri.

Dalam sidang Kongres pada Desember 2014, Gruber meminta maaf. "Komentar saya bodoh dan mempermalukan. Saya berbicara secara sembarangan dan saya menyesali apa yang telah saya katakan."

Yang menarik bukan kontroversinya itu sendiri. Yang menarik adalah apa yang sebenarnya dikatakan Gruber, jika kita membaca kalimatnya secara teliti.

Ia tidak mengatakan rakyat Amerika bodoh secara umum. Ia mengatakan bahwa sistem kesehatan terlalu rumit untuk dijelaskan dalam slogan kampanye 30 detik, sehingga UU harus diberi label dan dipasarkan dengan cara tertentu agar bisa lolos. Bahwa manfaat dan biaya kebijakan publik yang baik sering kali asimetris dalam visibilitasnya — manfaat jangka panjang sulit dilihat, biaya jangka pendek terlihat jelas — sehingga membutuhkan kemasan politik yang berbeda dari teknisnya.

Mengingatkan kita pada apa? Pada subsidi BBM Indonesia. Pada setiap reformasi struktural yang secara teknis benar tetapi secara politik mahal. Pada dilema setiap pembuat kebijakan yang harus berkomunikasi dengan publik yang sibuk, lelah, dan tidak punya waktu untuk membaca dokumen 2.700 halaman.

Gruber benar tentang substansinya — undang-undang asuransi kesehatan yang transparan tentang transfer dari sehat ke sakit memang tidak akan pernah lolos sebagai retorika. Tetapi ia salah secara fundamental dalam menyebut publik "bodoh," alih-alih mengakui bahwa kesulitannya terletak pada beratnya menjelaskan kebijakan kompleks dalam waktu terbatas dengan saluran komunikasi yang terbatas. Yang pertama adalah analisis. Yang kedua adalah penghinaan.

Tetapi pelajaran yang lebih mendalam tetap berdiri. Profesor mikroekonomi yang turun dari menara gading untuk merancang kebijakan publik akan selalu menghadapi trade-off yang baru: antara apa yang secara teknis optimal dan apa yang secara politik bisa lolos. Antara kebenaran teknis yang membosankan dan komunikasi yang bisa memenangkan suara. Antara desain yang elegan dan kompromi yang berantakan.


Apa yang dapat kita pelajari di Indonesia

Cerita Gruber memberikan beberapa pelajaran yang relevan bagi Indonesia hari ini.

Pertama, setiap kebijakan publik — dari kenaikan PPN, hingga reformasi BPJS Kesehatan, hingga subsidi BBM, hingga UU Cipta Kerja — pada dasarnya adalah latihan trade-off. Tidak ada makan siang gratis. Mengalokasikan sumber daya untuk satu hal berarti tidak mengalokasikannya untuk hal lain. Tugas pembuat kebijakan bukan mencari solusi yang "baik untuk semua orang" (yang tidak pernah ada), tetapi memutuskan trade-off mana yang paling adil dan paling efisien.

Kedua, kerangka tiga-kaki-bangku Gruber memberi insight tentang mengapa reformasi setengah-setengah hampir selalu gagal. Mencabut salah satu kaki tanpa mengkompensasi yang lain akan menjatuhkan bangkunya. Ini relevan untuk BPJS Kesehatan Indonesia, yang memiliki tiga kaki yang persis sama: (1) cakupan universal yang harus menerima semua, termasuk yang sakit; (2) iuran wajib yang menjaga sustainability; (3) subsidi pemerintah untuk yang tidak mampu (PBI). Jika kita memperlemah salah satu — misalnya membiarkan iuran tidak naik mengikuti biaya kesehatan — sistemnya akan defisit, dan kita harus menambal dari salah satu kaki lain. Tidak ada pilihan keempat.

Ketiga, dan ini yang paling mendalam, kebijakan publik yang baik membutuhkan komunikasi publik yang baik. Kontroversi Grubergate menunjukkan apa yang terjadi ketika seorang ahli teknis yang brilian gagal berbicara kepada publik dengan rasa hormat. Indonesia, dengan demografi yang muda dan media sosial yang menjadi medan tempur politik utama, membutuhkan ekonom dan pembuat kebijakan yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga cakap secara komunikasi. Yang tidak menganggap publik "bodoh" karena tidak memahami kerumitan, tetapi yang punya kewajiban untuk menjadikan kerumitan itu dapat dipahami.

Keempat, ada pelajaran tentang batasan ilmu ekonomi itu sendiri. Gruber, yang membuka kelasnya dengan menyebut ekonomi sebagai "the dismal science," sebenarnya sedang mengakui sesuatu yang sangat penting. Ekonomi tidak bisa memberi tahu kita apa yang harus kita prioritaskan. Itu adalah pilihan nilai. Ekonomi hanya bisa memberi tahu kita konsekuensi dari setiap pilihan. Bahwa subsidi BBM akan mengalir ke yang kaya. Bahwa harga ginjal yang tidak diregulasi akan mencapai lima juta dolar. Bahwa antrean konser dan harga konser adalah dua mekanisme alokasi yang berbeda dengan implikasi distribusi yang berbeda. Kita yang harus memutuskan, sebagai masyarakat, mana yang kita pilih.


Kembali ke ruang kuliah pada musim gugur 2010

Pada saat Jonathan Gruber membuka kuliahnya di MIT pada musim gugur 2010 dengan pertanyaan tentang payung dan keputusan buku teks, undang-undang yang ia rancang baru saja ditandatangani enam bulan sebelumnya. Pada saat itu, Obamacare masih merupakan eksperimen — orang belum tahu apakah akan berhasil atau gagal.

Lima belas tahun kemudian, kita tahu jawabannya. Lebih dari 40 juta warga Amerika mendapatkan asuransi kesehatan karena undang-undang itu — naik dari sekitar 50 juta yang sebelumnya tidak terasuransi. Sistemnya tidak sempurna. Premi tetap mahal di beberapa negara bagian. Beberapa pasar tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Tetapi tingkat orang Amerika yang tidak terasuransi turun ke level terendah dalam sejarah modern.

Pada Maret 2017, ketika Republikan mencoba mencabut Obamacare, Donald Trump menemukan bahwa undang-undang itu jauh lebih kompleks daripada yang ia bayangkan. Setelah upaya pencabutan gagal, ia berkata dengan kalimat yang sekarang terkenal: "Nobody knew healthcare could be so complicated."

Gruber, ditanya tentang kalimat itu oleh NPR, menjawab dengan datar: "Sebenarnya, banyak orang tahu. Itulah yang menjadi alasan kami menghabiskan begitu banyak waktu merancangnya."

Mungkin itulah pelajaran terdalam dari kisah Gruber. Trade-off ada di mana-mana — di payung pagi hari Anda, di pilihan buku teks Anda, di subsidi BBM, di asuransi kesehatan nasional. Beberapa trade-off mudah; Anda bisa menyelesaikannya dalam dua detik. Beberapa rumit; mereka membutuhkan model komputer, simulasi, dan 21 kunjungan ke Gedung Putih. Tetapi semuanya, pada akhirnya, adalah trade-off.

Ilmu ekonomi mungkin disebut the dismal science. Gruber sendiri mengaku menyukai julukan itu. Tetapi yang ia tunjukkan, melalui kuliah-kuliah di MIT dan melalui karya kebijakannya di Washington, adalah bahwa ekonomi yang baik tidak suram. Ia jujur. Ia memaksa kita melihat bahwa setiap pilihan punya harga. Ia menolak janji-janji manis dari politisi yang mengatakan kita bisa memiliki semuanya tanpa mengorbankan apa pun.

Di dunia yang dipenuhi oleh janji-janji palsu — kebijakan tanpa biaya, manfaat tanpa pengorbanan, kebahagiaan tanpa kompromi — kemampuan untuk mengatakan dengan tenang, "Anda harus menyerahkan X untuk mendapatkan Y," adalah bentuk kejujuran intelektual yang langka.

Pada akhir kuliahnya, Gruber memberi tugas pertama kepada mahasiswa-mahasiswanya. Bukan tugas matematika. Bukan tugas membaca buku teks. Hanya ini:

"Selama beberapa hari ke depan, pikirkan tentang keputusan-keputusan yang Anda buat. Apakah saya harus membawa payung hari ini? Apakah saya harus minum satu lagi di pesta Jumat malam? Setiap satu dari itu adalah keputusan optimisasi terkendala. Mereka akan memengaruhi hidup Anda."

Itu adalah saran yang berlaku untuk seorang mahasiswa baru di MIT pada 2010. Itu juga berlaku untuk seorang menteri keuangan yang menyusun APBN di Jakarta pada 2026. Skala berbeda. Logikanya sama.

Ekonomi yang muram, ternyata, sangat menyala-nyala.


Disarikan dan dikembangkan dari Lec 1 MIT 14.01SC "Principles of Microeconomics" oleh Prof. Jonathan Gruber, dengan kontekstualisasi pada perannya sebagai arsitek Massachusetts Health Care Reform (2006) dan Affordable Care Act (2010), serta implikasinya bagi kebijakan publik di Indonesia.