Pria yang Mengajar Blockchain Sebelum Menghancurkannya
Sebuah refleksi tentang kontradiksi, ironi, dan apa yang sebenarnya sedang kita pertaruhkan ketika kita bicara soal uang
Pada musim gugur 2018, seorang dosen tinggi besar berdiri di depan ratusan mahasiswa MIT Sloan School of Management. Aulanya penuh. Topik perkuliahannya menarik banyak peminat: blockchain dan uang.
Sang dosen memulai dengan jajak pendapat sederhana. "Berapa banyak dari kalian yang pernah memiliki cryptocurrency?" Sekitar 45 persen mahasiswa mengangkat tangan. "Dan berapa banyak yang pernah mengerjakan proyek blockchain?" Sekitar sepertiga lagi. Dosen itu mengangguk. "Kalian mungkin tahu lebih banyak daripada saya," katanya, "tapi saya akan coba."
Nama dosen itu Gary Gensler. Tiga tahun kemudian, pada April 2021, Joe Biden menunjuknya sebagai Ketua US Securities and Exchange Commission (SEC) — lembaga pengatur pasar modal paling berpengaruh di dunia. Selama empat tahun masa jabatannya, ia menggugat hampir setiap perusahaan crypto besar di Amerika. Coinbase, Binance, Kraken, Ripple. Total denda yang dijatuhkan SEC pada era Gensler mencapai lebih dari USD 6 miliar — empat kali lipat dari era pendahulunya. Industri crypto, yang dulu memujanya sebagai "profesor MIT yang mengerti kami," berbalik menjuluki dirinya "Musuh Publik Nomor Satu."
Bagaimana mungkin seseorang mengajar suatu teknologi dengan begitu cinta dan terang, lalu beberapa tahun kemudian menjadi orang yang paling getol menghancurkannya?
Jawabannya, seperti hampir semua hal yang menarik di dunia ini, terletak pada beberapa lapis ironi yang membuat kita perlu duduk sejenak dan berpikir.
❦
Sebuah pizza dan pertanyaan yang menghantui sejak 1995
Sebelum kita kembali ke Gensler, izinkan saya bercerita tentang Sandra Bullock.
Pada tahun 1995, film The Net dirilis. Filmnya tidak terlalu bagus, tetapi adegan pembukanya sangat menarik. Bullock memesan pizza melalui sebuah layanan baru bernama PizzaNet — salah satu eksperimen pertama penjualan daring di dunia. Anda memilih topping, mengisi alamat, lalu klik. Pizza akan tiba di depan pintu Anda.
Tapi ada satu masalah, kata Gensler di kelasnya. "Tahukah kalian apa masalah dengan PizzaNet?"
Kelasnya diam sejenak. Lalu seorang mahasiswa menjawab: "Anda tidak bisa membayar secara online."
Tepat. Anda tidak bisa membayar secara online. Belum ada yang tahu cara memindahkan uang melalui internet. Jadi Anda memesan pizzanya, dan ketika tiba, Anda membayar tukang antar dengan uang tunai.
Internet sudah ada. Email sudah berfungsi. Web pages sudah bisa diakses. Tetapi uang — uang masih harus berpindah tangan melalui benda fisik, atau melalui perantara terpusat seperti bank dan perusahaan kartu kredit yang mengutip komisi setiap kali Anda bertransaksi.
Antara 1995 dan 2008, banyak orang mencoba memecahkan masalah ini. David Chaum dengan DigiCash. Adam Back dengan Hashcash. Nick Szabo dengan smart contracts. Semuanya gagal. Beberapa hampir berhasil: PayPal pada 1998 (tetapi tetap sentral), Alipay di China, M-Pesa di Kenya (yang sebenarnya jenius — orang Kenya yang tidak punya rekening bank mulai memperdagangkan menit pulsa sebagai mata uang, dan Safaricom melegalkannya menjadi sistem pembayaran). Semua solusi ini tetap memerlukan perantara terpusat.
Lalu pada Halloween 2008, sebuah email dikirim ke milis cypherpunks. Pengirimnya menyebut dirinya Satoshi Nakamoto. Kalimat pembukanya sederhana, hampir merendah:
"I've been working on a new electronic cash system that's fully peer-to-peer with no trusted third party."
Tidak ada perantara tepercaya. Tidak ada bank. Tidak ada Visa, MasterCard, PayPal. Hanya kode, kriptografi, dan jaringan komputer yang saling memverifikasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, uang dapat berpindah melalui internet seperti email — dari satu titik ke titik lain, langsung, tanpa ada yang berdiri di tengah dan mengutip biaya.
Pada Mei 2010, seorang ilmuwan komputer di Florida bernama Laszlo Hanyecz memutuskan untuk menguji apakah Bitcoin benar-benar bisa dipakai membeli sesuatu. Ia mengirim email ke milis Bitcoin: "Saya akan bayar 10.000 Bitcoin untuk dua pizza." Tiga hari lewat, tidak ada yang mau. Ia menulis lagi: "Apakah saya menawarkan terlalu sedikit?" Akhirnya pada hari keempat, ada yang menerima. Laszlo mendapatkan dua pizza Papa John's. Ia memposting foto anaknya meraih pizza yang baru tiba.
Saat itu, 10.000 Bitcoin bernilai sekitar USD 41.
Ketika Gensler menceritakan ini di kelas pada akhir 2018, nilai 10.000 Bitcoin yang sama sudah menjadi USD 66 juta. Pada awal 2026, kira-kira USD 1 miliar — sekitar Rp16 triliun untuk dua pizza.
Setiap tanggal 22 Mei, komunitas crypto merayakan apa yang mereka sebut Bitcoin Pizza Day. Bukan untuk Laszlo, sebenarnya. Tetapi untuk momen ketika sesuatu yang tidak mungkin — memindahkan nilai melalui internet tanpa perantara — terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia.
❦
Apa yang sebenarnya Gensler katakan di kelasnya
Inilah bagian yang menarik tentang kuliah Gensler di MIT pada 2018, dan inilah mengapa kontradiksinya kemudian terasa begitu tajam.
Gensler tidak mengajar blockchain sebagai seorang penginjil. Ia tidak mengatakan ini akan mengubah dunia. Ia tidak berjanji bahwa cryptocurrency akan menggantikan dolar. Sebaliknya, ia berdiri di depan kelas yang berisi mahasiswa-mahasiswa MBA yang banyak di antaranya sudah memiliki Bitcoin, dan ia berkata: "Kita akan berbicara tentang ground truths. Memisahkan klaim semata dari hype."
Ground truth — istilah militer Amerika. Ketika seorang jenderal di markas tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, ia berbicara dengan kopral yang baru saja kembali dari pertempuran, berlumpur, dengan luka peluru. Itulah ground truth. Bukan slide PowerPoint dari kantor pusat. Tetapi kenyataan dari medan tempur.
Gensler ingin mahasiswanya mengembangkan kemampuan berpikir kritis. "Banyak yang menyamar sebagai fakta," katanya, "padahal hanya klaim semata." Ia akan menugaskan mereka membaca para minimalis terkenal — Paul Krugman, Joseph Stiglitz, Nouriel Roubini, Warren Buffett — yang semuanya menyebut Bitcoin sebagai penipuan. Ia juga akan menugaskan para maksimalis. Tugas mahasiswa adalah berpikir sendiri.
Ia sendiri memposisikan diri di tengah. "Saya kira saya seorang minimalis-tengah pada Bitcoin," katanya. Pada smart contracts, di tengah. Pada blockchain secara umum, sedikit di sisi maksimalis-tengah, dan ia mengakui bahwa pandangannya pelan-pelan bergeser ke arah tengah seiring waktu.
Tetapi ada satu hal yang ia katakan dengan sangat jelas, dan ini yang menjelaskan setengah dari kontradiksinya kemudian:
"Sektor finansial mengumpulkan banyak sekali economic rents — sewa ekonomi. Finance duduk di leher jam pasir, di mana miliaran, bahkan triliunan butir pasir lewat setiap hari. Kalau Anda bisa mengambil sebagian dari butiran-butiran itu, Anda menjadi kaya raya."
Bagi Gensler, sektor keuangan AS bernilai 7,5 persen dari PDB — sekitar USD 1,5 triliun pendapatan per tahun. Sistem pembayaran sendiri merupakan USD 100–200 miliar. Visa saja USD 18 miliar. Bagi Anda dan saya yang membayar 2,5–3 persen setiap kali menggesek kartu kredit, itu adalah pajak yang tidak kentara yang kita bayar kepada perantara. Tujuh setengah persen dari ekonomi yang masuk ke kantong segelintir orang yang duduk di leher jam pasir.
"Ada 1,7 miliar orang di dunia yang masih tidak punya rekening bank," Gensler menambahkan dengan nada serius. "Bahkan di Amerika Serikat, ada banyak orang yang tidak punya akses ke kartu kredit, hipotek, kredit yang layak. Blockchain memiliki peluang nyata untuk masuk ke bawah dunia keuangan ini dan mungkin melakukan beberapa hal dengan lebih baik.
Inilah Gensler tahun 2018. Bukan booster crypto, tetapi bukan juga musuh. Seorang akademisi-praktisi yang melihat keduanya — janji blockchain dan masalahnya — dengan jernih. Ia mengakui Bitcoin punya masalah skalabilitas (hanya 7 transaksi per detik, sementara sistem pembayaran modern membutuhkan 100.000). Ia mengakui interoperabilitas-nya bermasalah. Tetapi ia melihat potensi nyata untuk demokratisasi keuangan.
❦
Lalu, sesuatu yang menarik terjadi
Antara 2018 dan 2021, dunia crypto mengalami pertumbuhan yang seharusnya membenarkan optimisme Gensler. Tetapi yang terjadi sebaliknya — pertumbuhannya justru membenarkan kekhawatirannya, bukan harapannya.
Initial Coin Offerings (ICO) menjamur, sebagian besar dijalankan oleh penipu yang melarikan uang investor retail dan menghilang. Stablecoins seperti TerraUSD runtuh dan menghapus puluhan miliar dolar nilai. FTX, yang sempat dipuja sebagai exchange paling dipercaya di industri, ternyata digunakan oleh pendirinya Sam Bankman-Fried untuk menyalahgunakan dana nasabah dalam skema ponzi yang akhirnya menggugat sekitar USD 8 miliar. Investigasi membongkar bahwa banyak "token" yang dipasarkan sebagai aset masa depan sebenarnya tidak memiliki proposisi nilai sama sekali — hanya speculation dan greater fool theory.
Pada April 2021, Biden menunjuk Gensler sebagai Ketua SEC. Posisinya berubah secara fundamental. Sebelumnya, ia adalah seorang akademisi yang harus seimbang, harus menyajikan berbagai sudut pandang. Sekarang ia adalah regulator yang punya mandat hukum untuk melindungi investor publik dari penipuan. Tugasnya bukan lagi mengajar, tetapi menegakkan.
Dan ini yang sering hilang dari narasi industri crypto tentang Gensler: ia tidak berubah pikiran tentang teknologi. Ia berubah pikiran tentang bagaimana industri itu mengoperasikannya.
Dalam wawancara terakhirnya sebelum mundur pada Januari 2025, Gensler berkata kepada Yahoo Finance: "Banyak orang di lapangan crypto tidak mematuhi hukum kami yang sudah teruji waktu." Banyak aset digital, katanya, "sangat spekulatif." Tentang sebagian aset, ia bertanya: "Anda harus mempertanyakan apa kasus penggunaan sebenarnya; apa proposisi nilai mereka?"
Selama empat tahun masa jabatannya, SEC melayangkan 125 tuntutan terkait crypto — naik 80 persen dari era pendahulunya. Penalti finansial mencapai USD 6,05 miliar. Tuntutan terhadap Binance saja menghasilkan penyelesaian USD 4,3 miliar. Coinbase, Kraken, Ripple — semua digugat.
Industri crypto, yang dulu menganggapnya satu dari sedikit regulator yang "mengerti," merasa dikhianati. Hashtag #FireGensler beredar luas. Donald Trump menjanjikan akan memecatnya "pada hari pertama" jika menang pemilu. Gensler akhirnya mundur sendiri pada Januari 2025, hanya beberapa jam sebelum pelantikan Trump.
❦
Pelajaran yang sebenarnya
Mudah untuk membaca cerita ini sebagai cerita tentang kemunafikan. Profesor yang mengajar dengan antusias, lalu menghancurkan apa yang diajarkannya. Tetapi saya pikir itu pembacaan yang dangkal.
Cerita yang sebenarnya, jika kita mau jujur kepada diri sendiri, lebih menarik dan lebih relevan bagi kita di Indonesia.
Pertama, Gensler sebenarnya konsisten — tetapi dengan prinsip yang lebih dalam daripada "crypto bagus" atau "crypto buruk." Prinsipnya adalah: teknologi yang baik tidak menggantikan kebutuhan akan kepercayaan, ia mengubah cara kepercayaan diorganisir. Blockchain pada 2018 menjanjikan akan menggantikan perantara terpusat dengan kode dan matematika. Tetapi pada 2024, jelas bahwa industri crypto sendiri telah menciptakan perantara terpusat baru — exchange, lending platforms, stablecoin issuers — yang justru memiliki lebih sedikit transparansi dan akuntabilitas dibanding bank tradisional yang ingin mereka gantikan.
Janji asli Satoshi Nakamoto adalah "no trusted third party." Tetapi ketika Anda menyimpan Bitcoin Anda di Binance atau FTX, Anda memang mempercayakan dana Anda kepada pihak ketiga. Hanya saja pihak ketiga itu tidak diatur, tidak diaudit, dan ketika mereka jatuh, tidak ada Lembaga Penjamin Simpanan yang akan mengembalikan dana Anda.
Kedua, ada perbedaan besar antara mendukung teknologi dan mendukung perilaku para pelakunya. Gensler tidak pernah mengatakan blockchain itu buruk. Ia mengatakan banyak operator crypto melanggar undang-undang sekuritas yang sudah ada selama 90 tahun — undang-undang yang dibuat justru untuk melindungi investor kecil dari penipuan yang sama yang sekarang dilakukan dengan kemasan baru.
Atau, dalam kata-katanya sendiri pada 2018: "Kejahatan bukanlah hal baru, hanya mekanisme dan caranya saja yang baru."
Ketiga, dan ini yang paling penting bagi kita di Indonesia: kontradiksi nyata bukanlah antara Gensler 2018 dan Gensler 2024. Kontradiksi nyata adalah antara janji blockchain dan realitas implementasinya. Gensler adalah saksi bagi kontradiksi itu, bukan personifikasinya.
Indonesia adalah pasar crypto yang sangat besar. Per akhir 2024, jumlah investor crypto Indonesia melampaui jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia. Namun banyak dari mereka adalah investor retail muda yang masuk pasar dengan harapan menjadi kaya cepat, tanpa pemahaman mendalam tentang teknologi atau risiko. Ketika harga jatuh, kerugian mereka nyata — uang sungguhan dari tabungan, dari pinjaman, kadang dari dana darurat keluarga.
Pertanyaan yang ditinggalkan Gensler bagi kita bukanlah "apakah crypto akan menggantikan rupiah?" Pertanyaannya jauh lebih dalam: infrastruktur kepercayaan seperti apa yang kita ingin bangun untuk anak-anak kita? Yang sepenuhnya didesentralisasi dan tidak diatur, dengan kebebasan penuh tetapi tanpa perlindungan? Yang sepenuhnya tersentral dan terkontrol negara, dengan keamanan tetapi tanpa otonomi? Atau sesuatu di antaranya, yang mengkombinasikan inovasi blockchain dengan kerangka regulasi yang melindungi yang lemah?
❦
Apa yang tidak bisa dibayar Sandra Bullock
Tiga puluh satu tahun setelah Sandra Bullock harus membayar tunai untuk pizza yang dipesan secara online, kita hidup di dunia di mana hampir semua uang sudah elektronik. Anda membayar SPP secara online. Gaji ditransfer langsung ke rekening. Cicilan mobil otomatis terdebet. Bahkan ojek online menerima pembayaran tanpa Anda menyentuh uang fisik.
Tetapi ada pertanyaan yang masih tersisa, pertanyaan yang sama dengan yang dihadapi PizzaNet di 1995, hanya pada level yang berbeda. Siapa yang menjaga sistem ini? Siapa yang menetapkan aturan? Siapa yang mengutip biaya, dan apakah biaya itu sepadan dengan layanan yang diberikan? Siapa yang ditanggung kerugiannya ketika sistem gagal? Siapa yang dilindungi, dan siapa yang dibiarkan?
Gensler, di kelasnya tahun 2018, mengingatkan mahasiswanya bahwa uang hanyalah konsensus sosial dan ekonomi. Bukan benda. Bukan kebenaran abadi. Hanya kesepakatan kolektif tentang apa yang akan kita anggap bernilai. Ketika konsensus itu berubah, uang itu sendiri berubah. Begitulah cara fiat currency menggantikan emas. Begitulah pula cara teknologi baru — entah blockchain atau yang akan datang setelahnya — bisa mengubah lanskap kita tanpa kita sadari.
Yang membuat saya termenung tentang cerita Gensler bukanlah ironinya. Ironi itu permukaan. Yang membuat saya termenung adalah betapa kuatnya godaan untuk membaca setiap teknologi baru hanya dalam dua kategori sederhana: revolusi atau penipuan, juru selamat atau setan. Dunia nyata jauh lebih berantakan. Teknologi yang sama bisa membebaskan satu miliar orang yang tidak punya rekening bank di Afrika, sambil sekaligus memungkinkan kejahatan finansial baru yang menghancurkan keluarga kelas menengah di Jakarta.
Tugas kita — sebagai warga, sebagai investor, sebagai pengambil keputusan — bukan memilih satu sisi dengan pasti. Tugas kita adalah mengembangkan apa yang Gensler sebut "keterampilan bernalar kritis". Bertanya: di mana proposisi nilai sebenarnya? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dirugikan? Apa yang dijanjikan, dan apa yang sebenarnya diberikan?
Pada akhir kuliahnya, Gensler bertanya kepada kelasnya: "Adakah yang akan pergi dan menjual Bitcoin mereka sekarang?" Tidak ada yang mengangkat tangan.
Lalu Larry Lessig, profesor hukum Harvard yang ternyata hadir tanpa diundang, mengangkat tangan dan berkata: "Saya datang ke sini karena saya pikir Anda akan membawa skeptisisme kritis ke seluruh bidang ini. Dan Anda sangat berpengetahuan tentang sisi keuangan. Saya ingin melihat kombinasi itu. Saya yakin ada there there — ada sesuatu di sana."
Ada sesuatu di sana. Itulah yang dipertaruhkan, dan itulah pertanyaan yang masih harus kita jawab — tentang blockchain, tentang AI, tentang setiap teknologi yang mengklaim akan mengubah cara kita hidup. Bukan hype, bukan juga sinisme. Hanya pertanyaan jujur: di mana value sebenarnya, dan untuk siapa?
Gary Gensler menghabiskan delapan tahun mencoba menjawab pertanyaan itu. Dari kelas MIT yang berisi mahasiswa antusias, ke kursi tertinggi pengawasan pasar modal Amerika, ke status sebagai "Public Enemy No. 1" di mata industri yang dulu mendengarkannya.
Ia mungkin benar. Ia mungkin salah. Tetapi ia mengajukan pertanyaan yang tepat. Dan dalam dunia yang dipenuhi dengan keyakinan yang berlebihan, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat — itu sendiri sudah merupakan bentuk keberanian intelektual yang langka.
❦
Disarikan dan dikembangkan dari Kuliah Pembuka 15.S12 "Blockchain and Money" oleh Prof. Gary Gensler di MIT Sloan School of Management (Fall 2018), dengan kontekstualisasi pada perjalanan kariernya sebagai Ketua SEC 2021-2025.
