Mengapa Kita Akan Miskin di Hari Tua — dan Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang
Sebuah refleksi atas wawancara Liguina Hananto, founder QM Financial dan komika, tentang krisis pensiun yang menunggu di depan pintu generasi kita.
Angka yang Seharusnya Membuat Kita Tidak Bisa Tidur
Ada satu angka yang seharusnya cukup untuk membuat Anda berhenti scrolling dan duduk diam sebentar: 95 persen orang Indonesia akan pensiun dalam kondisi finansial yang tidak ideal. Tujuh puluh tujuh persen di antaranya akan terus bekerja — bukan karena pilihan, tapi karena terpaksa — bahkan ketika tubuh sudah berkata cukup.
Itu bukan angka dari ramalan abstrak. Itu data dari survei Sunlife. Itu potret tentang ke mana kita semua — Anda, saya, teman-teman Anda di Slack, sepupu Anda yang baru beli mobil baru — sedang berjalan.
Dan inilah hal yang paling mengganggu: kebanyakan dari kita tahu ini, tapi memilih untuk tidak tahu.
Dalam wawancaranya bersama podcaster Rori, Liguina Hananto — founder QM Financial yang telah 23 tahun keliling Indonesia mengajar literasi finansial dari Aceh sampai Papua — mengungkapkan satu temuan yang mengganggu: dari ratusan perusahaan dan institusi yang pernah dia ajar, hanya dua yang mampu memberikan dana pensiun setara 60 persen dari penghasilan terakhir karyawannya. Satu di industri tambang. Satu di sektor keuangan. Sisanya? Rata-rata hanya mampu memberikan 20 persen.
Bayangkan sebentar. Anda hari ini bergaji 10 juta rupiah. Anda merasa cukup nyaman. Lalu Anda pensiun, dan tiba-tiba penghasilan Anda menjadi 2 juta rupiah. Cukup untuk bayar listrik, mungkin. Sisanya? Anda harus mencari tahu sendiri.
Itulah masa depan yang sedang menunggu mayoritas dari kita.
Mengapa Kita Begitu Buruk dalam Merencanakan Masa Tua?
Liguina menawarkan sebuah teori yang nakal tapi mungkin benar: kita tinggal di negara tropis. Kita tidak pernah mengalami musim dingin. Alam kita mengajarkan bahwa makanan tumbuh sepanjang tahun — lempar biji pepaya ke selokan, dalam beberapa bulan ia akan berbuah. Tanam tongkat, jadi singkong.
"Kita secara budaya alamnya enggak ngajarin buat menyimpan," katanya. "Diajak bikin long term goal, it doesn't exist. We don't even save food for December."
Tesis ini, diakuinya, masih perlu diuji secara akademik. Tapi pengamatannya terhadap perilaku finansial orang Indonesia menguatkan: kita adalah bangsa yang sulit diajak berpikir jangka panjang. Yang penting sekarang. Yang penting bisa makan hari ini. Yang penting bisa pamer di Instagram bulan ini.
Ditambah satu fakta yang sering disembunyikan dengan rapi: untuk anak muda usia 20-30an, dana pensiun bukanlah prioritas, dan itu wajar. Pada usia segitu, prioritas Anda adalah bisa beli rumah, atau setidaknya menyewa tempat yang layak. Lalu menikah. Lalu punya anak, dan tiba-tiba dana pendidikan menjadi monster yang jauh lebih horor daripada dana pensiun.
"Dana pensiun itu bukan sesuatu yang 'ayo nih harus disiapin'," kata Liguina. "Selalu 'nanti aja lah'. Sampai akhirnya saya diundang ngajar di korporasi — untuk karyawan yang akan pensiun dua minggu lagi. Dan itu sudah terlambat."
Matematika yang Akan Membuat Anda Menutup Artikel Ini
Mari kita lakukan apa yang kebanyakan kalkulator finansial enggan lakukan: tunjukkan angkanya secara jujur.
Asumsikan Anda ingin pensiun dengan gaya hidup setara 10 juta rupiah per bulan. Dengan rumus 4% yang populer di kalangan financial planner, Anda butuh 3 miliar rupiah sebagai bantal yang bisa Anda tarik 4 persennya per tahun selama 25 tahun masa pensiun.
Tiga miliar.
Sekarang masukkan satu variabel kecil bernama inflasi. Anggap saja 5 persen per tahun. Anggap Anda berusia 30 tahun sekarang, dan ingin pensiun di usia 55. Dalam 25 tahun, kebutuhan 10 juta rupiah hari ini akan setara dengan sekitar 34 juta rupiah per bulan di masa pensiun.
Artinya, target Anda bukan lagi 3 miliar. Target Anda mendekati 10 miliar rupiah.
Inilah momen di mana, menurut Liguina, kebanyakan orang menutup laptop, membuka aplikasi e-commerce, dan memesan sesuatu untuk menghibur diri. Ya udahlah, kata otak kita. Mustahil.
Tapi di sinilah letak salah satu insight paling berharga dari wawancara itu — dan ironisnya, datang dari seseorang yang awalnya hanya melihat finansial sebagai matematika murni.
Penemuan Liguina: Manusia Bukan Rumus
"Bertahun-tahun, ajaran saya adalah rumus doang," akunya. "Masukkan X, keluar Y. Ternyata enggak bisa. Karena waktu mengambil keputusan, yang mempengaruhi itu bukan rumusnya. Yang mempengaruhi itu adalah suasana hatinya."
Liguina kemudian mempelajari financial psychology — dan apa yang ditemukannya mengubah cara dia mengajar.
Manusia Indonesia, terutama, tidak bergerak karena angka besar yang menakutkan. Manusia bergerak karena batu loncatan yang bisa dibayangkan. Jadi alih-alih mengejar 10 miliar — yang akan membuat Anda ciut sebelum mulai — strateginya adalah:
Investasikan sekecil mungkin nilai yang Anda sanggup hilang. Lima puluh ribu sebulan. Seratus ribu. Berapapun yang tidak terasa sakit. Yang penting, dana itu masuk ke produk yang akan menggulungnya — terus, otomatis, tanpa drama.
Dalam 10 tahun, saldonya sudah ada. Dalam 15 tahun, mulai signifikan. Anda akan masuk ke fase serius perencanaan pensiun bukan dari nol, tapi dari tangga ketiga.
"Orang yang enggak punya uang sama sekali itu susah untuk punya cita-cita punya uang banyak," kata Liguina. "Tapi kalau dia berhasil punya dana darurat satu kali gaji saja, relationship dia sama uang itu beda."
Ini bukan sekadar tips. Ini adalah perubahan paradigma. Pensiun bukan tentang menaklukkan angka raksasa. Pensiun adalah tentang menciptakan saldo — sekecil apapun — dan membiarkan waktu serta bunga berbunga melakukan pekerjaannya.
Empat Produk yang Sebenarnya Menghasilkan Uang
Pada satu titik wawancara, Liguina memberikan satu kalimat yang seharusnya dicetak dan ditempel di kulkas semua orang berusia 30 tahun ke atas:
"Produk yang menghasilkan uang itu cuma ada empat: bisnis, properti, surat berharga seperti SBN dan deposito, sama kekayaan intelektual."
Itu saja. Sisanya — emas, koleksi sneakers, NFT, tanah yang menganggur — itu menyimpan nilai, mungkin bahkan mengapresiasi. Tapi mereka tidak mencetak uang. Mereka harus dijual untuk menjadi uang.
Ini distingsi yang krusial untuk pensiun. Karena pensiun yang sehat, menurut Liguina, bukanlah duduk di atas gunungan uang yang Anda kuras pelan-pelan. Pensiun yang sehat adalah tetap berpenghasilan saat sudah tidak produktif lagi.
Dan tetap berpenghasilan itu hanya bisa dicapai lewat dua jalur:
- Alih profesi — punya skill yang masih bisa dijual di usia 60, 70, 80 tahun.
- Punya aset yang menghasilkan — yang setiap bulan mengirim uang ke rekening Anda tanpa Anda harus bekerja untuknya.
Liguina sendiri adalah contoh hidup dari pilar pertama. Di usia menjelang 50, dia tidak hanya seorang financial trainer — dia juga seorang komika yang sengaja menggali skill baru. "Storytelling," katanya. "That's all that I have to hold on to dari umur 20-an, 30-an, 40-an. Tapi profesinya berubah. Mungkin di usia 80, saya jadi the oldest and the funniest stand-up comedian financial."
Pertanyaannya untuk Anda: skill apa yang Anda pelihara hari ini yang masih akan bernilai 30 tahun lagi?
Jebakan yang Diam-diam Menghancurkan Banyak Orang
Sepanjang wawancara, beberapa jebakan diidentifikasi. Mereka layak dicatat satu per satu:
Jebakan 1: Mengandalkan warisan. "Kalau lu udah tahu cara mengelola uang, begitu warisan datang, lu bisa kelola. Kalau lu enggak tahu cara ngelolanya, hilang juga itu," kata Liguina. Warisan yang datang ke tangan yang tidak terlatih akan menguap dalam hitungan tahun.
Jebakan 2: Mengandalkan anak. Ini bagian yang menyakitkan untuk dibaca. "Mohon maaf sekali, tapi menurut saya untuk konteks Indonesia, itu cuma urusan waktu — kita pasti akan ngurusin orang tua kita. Tapi sekarang, orang tua memang mau pindah ke rumah anaknya? Banyak yang enggak mau." Bahkan jika anak Anda sukses, bahkan jika mereka berbakti — Anda akan menyusahkan mereka jika Anda tidak punya dana sendiri. Itu adalah beban yang Anda warisi ke generasi yang seharusnya bisa Anda bantu, bukan justru harus membiayai.
Jebakan 3: Mengandalkan BPJS Ketenagakerjaan. Cukup atau tidak? "Definitely no," jawab Liguina tanpa ragu. Bahkan kombinasi BPJS + DPLK/DPPK perusahaan terbaik pun hanya mampu menutup 20-40 persen penghasilan terakhir.
Jebakan 4: Salah menempatkan dana darurat. Salah satu cerita paling jujur dalam wawancara itu datang dari Rori si pewawancara: dia pernah menempatkan dana daruratnya di saham. Ketika tiba-tiba butuh, dananya tidak likuid — harus menunggu hari kerja untuk cair. "My relationship with money was so bad," akunya. Dana darurat punya tujuan berbeda dari dana investasi. Mencampuradukkannya adalah kesalahan klasik yang menghancurkan banyak orang.
Jebakan 5: Utang konsumtif yang dibiarkan. Ini disebut Liguina sebagai pembunuh diam-diam. "Semua obrolan kita tadi enggak valid begitu ketemu orang yang masih ada pinjol, utang kartu kredit, utang paylater. Semua investasi yang kita bahas enggak berlaku untuk orang-orang yang utang konsumtifnya masih tinggi banget."
Lalu Apa yang Harus Dilakukan? Mulai Hari Ini.
Jika Anda berusia akhir 20-an, 30-an, atau awal 40-an, dan baru saja menyadari bahwa selama ini Anda tidak pernah serius memikirkan pensiun — kabar baiknya: Anda belum terlambat. Tapi Anda juga tidak punya banyak waktu untuk menunda lagi.
Berikut adalah peta jalan, didestilasi dari wawancara itu, untuk minggu ini — bukan untuk tahun depan.
Minggu ini, lakukan satu hal: buka aplikasi reksadana. Setor seratus ribu rupiah. Aktifkan auto-debet bulanan. Selesai. Anda telah memulai. Itu bukan jumlah yang akan membuat Anda kaya, tapi itu adalah saldo yang akan mengubah hubungan Anda dengan uang.
Bulan ini: hitung pengeluaran bulanan Anda. Kalikan minimal satu kali. Mulai membangun dana darurat di tempat yang likuid — tabungan biasa, deposito jangka pendek, atau emas digital yang bisa digadaikan. Bukan saham. Bukan reksadana saham. Sesuatu yang bisa Anda akses dalam 24 jam.
Tahun ini: bereskan utang konsumtif. Selama paylater dan utang kartu kredit Anda masih jalan, investasi apapun hanyalah ilusi produktivitas. Anda sedang lari di treadmill.
Tahun-tahun mendatang: diversifikasi. Liguina mengingatkan bahwa kesetiaan itu untuk pasangan, Tuhan, dan negara — bukan untuk produk investasi. Anda butuh deposito untuk likuiditas. Anda butuh SBN untuk pertahanan. Anda butuh saham atau reksadana saham untuk pertumbuhan jangka panjang. Anda mungkin butuh emas sebagai penyeimbang. Tidak ada satu produk pun yang menjawab semua kebutuhan.
Dan yang paling penting, di tengah semua kalkulasi ini: rawat skill Anda. Skill adalah aset yang tidak bisa diambil oleh resesi, fluktuasi pasar, atau krisis moneter. Skill adalah satu-satunya hal yang masih akan menghasilkan uang ketika tubuh Anda sudah tidak bisa kerja delapan jam sehari.
Bayangan yang Tidak Ingin Kita Lihat
Di akhir wawancara, Rori mengajukan satu pertanyaan terakhir: jika seseorang di usia akhir 20-an atau 30-an hari ini tidak juga mulai memikirkan dana pensiun, skenario terburuknya 20-30 tahun lagi seperti apa?
Jawaban Liguina sederhana dan brutal:
"Lu miskin. Pasti itu. Lu mau miskin ketika sudah tua apa enggak?"
Dan dia menambahkan satu observasi yang masih terngiang lama setelah video itu selesai:
"Enggak ada yang lebih sedih daripada lihat orang usianya udah 50-60 enggak punya sesuatu yang bisa support hidupnya. Karena nolonginnya udah susah. Umur 20-30 lu mau cari skill baru, segala macam mencobainnya, masih bisa. Bukan berarti umur 50-60 enggak bisa, tapi energinya sudah enggak sama. Badan lu tuh enggak sama. Mentalitas tuh enggak sama."
Di Indonesia, kita punya kebiasaan tidak berbicara terus terang tentang kemiskinan di hari tua. Kita bicara tentang "menjaga orang tua", tentang "berbakti", tentang "nanti pasti ada jalan". Itu bahasa yang nyaman. Itu bahasa yang membuat kita tidak harus berhadapan dengan spreadsheet.
Tapi spreadsheet tidak peduli pada kenyamanan kita. Inflasi tidak peduli pada doa kita. Dan waktu — waktu yang seharusnya menjadi sahabat terbaik kita untuk berinvestasi — sedang terus berjalan, dengan atau tanpa keputusan kita.
Mimpi Aneh dan Hitungan Finansialnya
Ada satu momen yang menggemaskan dalam wawancara itu. Rori bercerita bahwa cita-citanya adalah punya toko buku yang tidak menghasilkan uang, plus peternakan bebek dan kambing. Liguina, alih-alih menertawakan, justru menanggapinya dengan serius.
"Mimpi itu harus setinggi langit. Tapi terus ada pertanyaan yang akan mengganggu — what's stopping you from achieving that dream? Jawabannya akan duit. Maka ya sudah, duitnya harus kita kumpulin."
Itulah esensi sebenarnya dari perencanaan pensiun. Bukan tentang menjadi kaya. Bukan tentang Ferrari atau vila di Bali. Pensiun adalah tentang mampu memilih bagaimana Anda menghabiskan tiga dekade terakhir hidup Anda — entah itu menulis buku, mengajar di kampung, beternak bebek, atau sekadar tidak harus menumpang hidup pada anak.
Itu adalah bentuk kebebasan paling fundamental. Dan kebebasan itu dibangun bukan di usia 55, bukan ketika Anda tinggal dua minggu lagi pensiun. Kebebasan itu dibangun hari ini — dengan keputusan kecil, dengan saldo pertama, dengan satu auto-debet seratus ribu rupiah yang Anda nyalakan minggu ini.
Pertanyaannya tinggal satu: Anda mau menjadi 95 persen, atau 5 persen?
Waktu Anda mulai berhitung mundur dari sekarang.
Sumber: Wawancara Rori bersama Liguina Hananto (founder QM Financial dan komika), kanal YouTube. Data Sunlife dan rumus 4% disebutkan dalam wawancara. Refleksi dan penulisan ulang oleh penulis.