KENAPA KINI KITA LEBIH SEDIKIT MENCIPTAKAN KENANGAN

Kita merekam lebih banyak dari generasi mana pun dalam sejarah. Lalu mengapa rasanya hidup lewat begitu saja?

Coba jawab pertanyaan ini tanpa membuka galeri HP: apa yang kamu lakukan pada hari Minggu tiga pekan lalu?

Kebanyakan dari kita akan terdiam. Bukan karena hari itu buruk, bukan pula karena tidak terjadi apa-apa. Hari itu terjadi. Dua puluh empat jam penuh, seperti biasa. Kita bangun, makan, mungkin tertawa menonton sesuatu, membalas belasan chat, menonton potongan-potongan video yang saat itu terasa menghibur. Tapi hari itu tidak meninggalkan jejak. Ia lewat seperti air melewati saringan yang lubangnya terlalu besar.

Ini paradoks paling ganjil dari zaman kita. tidak pernah ada generasi yang mendokumentasikan hidupnya sebanyak kita. Ribuan foto, riwayat chat bertahun-tahun, arsip lokasi yang tahu kita ada di mana setiap jamnya. Tapi juga tidak pernah ada generasi yang merasa hidupnya berlalu secepat ini, seburam ini. Kita punya arsip yang luar biasa dan ingatan yang biasa-biasa saja.

Dan kalau kita mau jujur, kita tahu tersangkanya. Ia sedang ada di genggaman kita sekarang, atau paling jauh sejangkauan tangan.

 

Bagaimana sebuah hari menjadi kenangan

Untuk memahami apa yang hilang, kita perlu tahu dulu bagaimana kenangan dibuat. Otak kita ternyata bukan kamera yang merekam terus-menerus. Ia lebih mirip editor film yang pelit. Dari aliran pengalaman yang tak putus-putus, ia memotong dan menyimpan hanya adegan-adegan yang dianggap layak.

Yang menentukan potongan itu adalah perubahan. Para psikolog menyebutnya event segmentation, otak menandai batas sebuah "episode" setiap kali ada yang bergeser. Kita pindah ruangan, bertemu orang baru, cuaca berubah, sesuatu yang tak terduga terjadi. Penelitian Jeffrey Zacks dan koleganya menunjukkan bahwa batas-batas episode inilah yang menjadi kerangka ingatan; orang yang lebih peka memotong pengalaman menjadi episode-episode ternyata juga mengingat pengalaman itu lebih baik. Tanpa batas, tidak ada episode. Tanpa episode, tidak ada kenangan, hanya gumpalan waktu yang seragam.

Di sinilah masalahnya. Sore yang dihabiskan di pasar malam penuh dengan batas. Bau jagung bakar, tawar-menawar, hujan yang tiba-tiba turun, wajah-wajah asing. Sore yang dihabiskan untuk scrolling nyaris tidak punya batas sama sekali. Layar yang sama, posisi duduk yang sama, gerakan jempol yang sama. Kontennya memang berganti setiap delapan detik, tapi bagi otak, pergantian itu terlalu cepat dan terlalu seragam untuk dijadikan penanda episode. Tiga jam scrolling disimpan otak sebagai satu adegan buram. Tiga jam di pasar malam bisa menjadi lima belas adegan yang bisa diceritakan ulang.

Kenangan, dengan kata lain, butuh tekstur. Dan gadget, dengan segala kenyamanannya, adalah mesin penghalus tekstur.

 

Empat cara kita berhenti mengingat

Kecurigaan bahwa teknologi mengikis ingatan bukan sekadar keluhan orang tua. Dalam lima belas tahun terakhir, setidaknya empat garis penelitian sampai pada temuan yang saling menguatkan.

Yang pertama soal kebiasaan kita mengabadikan segalanya. Pada 2014, psikolog Linda Henkel mengajak sekelompok orang tur ke museum. Sebagian objek mereka foto, sebagian hanya mereka amati. Hasilnya berlawanan dengan intuisi. Objek yang difoto justru lebih buruk diingat, bentuknya, detailnya, bahkan letaknya. Henkel menamainya photo-taking impairment effect. Saat menekan tombol kamera, otak kita seolah berkata: sudah, ini urusan kamera, aku tak perlu repot. Kita mendelegasikan tugas mengingat ke perangkat, lalu perangkat menyimpannya, dan kita tidak. Studi lanjutan menemukan efek ini bahkan tetap muncul ketika partisipan tahu fotonya akan langsung terhapus. Jadi bukan sekadar soal "merasa sudah tersimpan"; tindakan memotret itu sendiri sudah memecah perhatian yang dibutuhkan untuk mengingat.

Yang kedua soal ke mana kita menaruh pengetahuan. Setahun sebelumnya di jurnal Science, Betsy Sparrow dan koleganya menunjukkan hal serupa untuk informasi: ketika orang percaya sebuah fakta akan bisa dicari lagi nanti, mereka mengingat faktanya lebih buruk, tapi mengingat di mana mencarinya lebih baik. Fenomena ini dijuluki Google effect. Internet telah menjadi memori eksternal kita bersama, dan otak, yang selalu efisien, berhenti menyimpan apa yang sudah disimpan orang lain.

Yang ketiga lebih mengganggu, karena terjadi bahkan saat kita tidak menyentuh HP. Penelitian Adrian Ward dan timnya di University of Texas menemukan bahwa kehadiran smartphone di atas meja (bahkan dalam keadaan mati, tertelungkup) sudah cukup menurunkan kapasitas kognitif yang tersedia dibanding jika HP ditinggal di ruangan lain. Sebagian sumber daya otak kita ternyata terpakai hanya untuk menahan diri agar tidak mengeceknya. Mereka menyebutnya brain drain. Perlu diakui, temuan ini masih diperdebatkan. Sebuah meta-analisis tahun 2023 menemukan efeknya tidak sekuat klaim awal, meski beberapa replikasi lain tetap menemukannya pada performa atensi dasar. Tapi bahkan versi paling konservatifnya tetap merisaukan: benda itu menarik perhatian kita bahkan ketika sedang diam.

Yang keempat soal cara kita mengonsumsi. Studi Stanford oleh Ophir, Nass, dan Wagner menemukan bahwa para heavy media multitasker atau orang yang terbiasa memakai banyak media sekaligus, justru lebih buruk menyaring gangguan, dan tinjauan satu dekade berikutnya mengaitkan kebiasaan itu dengan memori kerja dan memori jangka panjang yang lebih lemah. Catatannya: ini korelasi, bukan bukti sebab-akibat; bisa jadi orang yang atensinya rapuh memang lebih tertarik pada multitasking. Tapi arah panahnya, ke mana pun ia menunjuk, tidak menghibur.

Empat garis riset ini punya satu benang merah. Ingatan membutuhkan perhatian penuh pada saat pengalaman terjadi, dan perhatian penuh adalah persis komoditas yang paling sistematis dipanen oleh ekonomi digital.

 

Mengapa waktu terasa makin cepat

Di sinilah keluhan yang paling sering kita ucapkan, "kok sudah Desember lagi?", menemukan penjelasannya.

Psikolog Claudia Hammond menyebutnya holiday paradox: waktu yang kita rasakan saat menjalani dan waktu yang kita rasakan saat mengenang dihitung dengan dua mekanisme berbeda. Liburan yang padat pengalaman terasa cepat saat dijalani, tapi panjang saat dikenang. Karena arsipnya tebal. Rutinitas terasa lambat saat dijalani, tapi lenyap saat dikenang. Karena arsipnya tipis. Ketika kita menoleh ke belakang dan bertanya "ke mana perginya tahun ini?", yang sebenarnya kita ukur bukanlah waktu, melainkan kepadatan kenangan.

Maka sensasi hidup yang makin ngebut itu mungkin bukan ilusi, melainkan diagnosis yang akurat. Tahun-tahun kita tidak memendek; arsipnya yang menipis. Setiap jam yang diisi scrolling adalah jam yang tidak menyetor apa-apa ke tabungan kenangan. Dan scrolling kini mengisi celah-celah yang dulu diisi hal-hal acak yang justru sering menjadi kenangan: obrolan tak sengaja dengan orang asing di angkot, bengong memperhatikan tetangga, kebosanan yang memaksa anak-anak menciptakan permainan sendiri. Kebosanan, bahan mentah yang dulu memaksa kita keluar mencari pengalaman, kini punah, dipadamkan dalam hitungan detik oleh benda di saku kita.

 

Apa yang dipertaruhkan

Mungkin ada yang bertanya: memangnya kenapa? Toh hidup tetap dijalani, produktivitas tetap jalan, dan semua momen penting sudah aman di cloud.

Masalahnya, kenangan bukan sekadar album. Para psikolog naratif sudah lama berpendapat bahwa identitas kita pada dasarnya adalah cerita yang kita susun dari ingatan-ingatan episodik: aku adalah orang yang pernah jatuh di sana, nekat di sini, patah hati di titik itu, lalu bangkit. Orang dengan arsip kenangan yang kaya punya bahan berlimpah untuk menjawab pertanyaan "siapa saya". Orang yang tahun-tahunnya buram harus menyusun identitas dari bahan yang makin sedikit — atau lebih mungkin, dari bahan yang disodorkan orang lain di linimasa.

Ada juga soal ikatan. Kenangan bersama adalah perekat hubungan yang paling tua: keluarga dan persahabatan dirawat oleh "ingat nggak waktu itu..." — ritual mengenang yang hanya mungkin kalau ada yang bisa dikenang bersama. Generasi yang menghabiskan waktu berdampingan tapi masing-masing menatap layarnya sendiri sedang menabung sangat sedikit untuk ritual itu. Berada di ruangan yang sama bukan lagi jaminan sedang mengalami hal yang sama.

Dan ada pertaruhan yang baru bisa ditagih puluhan tahun lagi: masa tua. Nostalgia bukan kemewahan; penelitian menunjukkan ia salah satu sumber makna dan penghiburan terpenting di usia lanjut. Para peneliti memori otobiografis menemukan fenomena reminiscence bump — orang lanjut usia paling banyak mengenang masa antara usia belasan sampai tiga puluhan, masa yang paling padat pengalaman pertama. Kita belum tahu bagaimana bentuk reminiscence bump generasi yang melewatkan masa mudanya sambil menunduk. Mungkin mereka akan menua dengan galeri berisi seratus ribu foto dan sangat sedikit cerita — arsip yang lengkap tentang hidup yang tidak terlalu dihayati. Ini spekulasi, tentu. Tapi spekulasi yang dibangun di atas mekanisme yang sudah kita pahami.

 

Sebelum kita menyalahkan mesin sepenuhnya

Kejujuran menuntut satu pengakuan: kepanikan semacam ini bukan hal baru. Dua setengah milenium lalu, Socrates mengkhawatirkan teknologi bernama tulisan — katanya ia akan "menanamkan kelupaan dalam jiwa manusia" karena orang tak lagi melatih ingatannya. Ia setengah benar: kita memang tak lagi hafal epos ribuan bait. Tapi manusia tidak berhenti mengingat; kita hanya mengubah apa yang diingat. Bisa jadi kelak sejarah menilai kegelisahan era gadget dengan cara yang sama.

Dan interaksi digital bukannya nol kenangan. Orang bisa mengenang percakapan larut malam lewat pesan singkat yang mengubah hidupnya, persahabatan yang tumbuh dari dunia maya, kabar duka yang diterima lewat layar dan tak akan pernah terlupakan. Yang membedakan bukan medianya, melainkan kualitas kehadirannya: panggilan video dengan ibu di kampung adalah pengalaman; scrolling tanpa arah adalah pengisi waktu. Layar bisa menjadi jendela — masalah muncul ketika ia menjadi pengganti pemandangan itu sendiri.

Tapi ada satu hal yang membuat era ini berbeda dari kecemasan Socrates: untuk pertama kalinya, alat penyimpan ingatan kita dirancang oleh industri yang keuntungannya dihitung dari berapa lama kita tidak bisa berhenti menatapnya. Tulisan tidak pernah membujuk pembacanya untuk terus membaca sampai jam tiga pagi. Buku tidak punya autoplay. Kemonotonan yang mengikis kenangan itu bukan efek samping yang disesalkan — ia hasil optimasi yang disengaja, diperhalus oleh ribuan insinyur agar gesekan sekecil apa pun lenyap dari pengalaman kita. Padahal, kalau ada satu pelajaran dari semua riset di atas, bunyinya kira-kira begini: gesekan adalah bahan baku kenangan.

 

Kembali ke hari Minggu itu

Maka mungkin resep untuk melawan hidup yang terasa makin cepat bukanlah resolusi besar, melainkan sesuatu yang hampir memalukan karena sederhananya: perbanyak momen yang sedikit sulit, sedikit acak, dan melibatkan orang lain secara langsung. Ambil rute yang belum pernah dilewati. Biarkan diri tersesat sebentar. Masak makanan yang belum tentu berhasil. Datangi teman tanpa membuat janji lewat chat. Simpan HP di ruangan lain — bukan sekadar dibalik — saat makan bersama. Foto satu momen, lalu kantongi kameranya dan alami sisanya.

Tidak ada yang heroik dari semua itu. Tapi otak kita, editor film yang pelit itu, hanya menyimpan adegan yang kita perankan dengan hadir sepenuhnya. Hari Minggu tiga pekan lagi akan tetap datang, dua puluh empat jam penuh seperti biasa. Pertanyaannya cuma satu: apakah ia akan menjadi kenangan, atau sekadar menjadi waktu yang habis.

Sebab pada akhirnya, hidup yang kita ingat adalah satu-satunya hidup yang benar-benar kita miliki.

 

Rujukan

  • Henkel, L. A. (2014). Point-and-Shoot Memories: The Influence of Taking Photos on Memory for a Museum Tour. Psychological Science. — tautan
  • Soares, J. S., & Storm, B. C. (2018/2020). Photo-Taking Impairs Memory on Perceptual and Conceptual Memory Tests.tautan
  • Sparrow, B., Liu, J., & Wegner, D. M. (2011). Google Effects on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips. Science. — tautan
  • Ward, A. F., Duke, K., Gneezy, A., & Bos, M. W. (2017). Brain Drain: The Mere Presence of One's Own Smartphone Reduces Available Cognitive Capacity.tautan
  • Does the Brain Drain Effect Really Exist? A Meta-Analysis (2023). — tautan
  • Ophir, E., Nass, C., & Wagner, A. D. (2009). Cognitive Control in Media Multitaskers. PNAS. — tautan
  • Stanford Report (2018). Heavy multitaskers have reduced memory.tautan
  • Zacks, J. M., & Swallow, K. M. (2007). Segmentation in the Perception and Memory of Events. Trends in Cognitive Sciences. — tautan
  • Hammond, C. — tentang holiday paradox dan persepsi waktu: NBC News, Why our sense of time speeds up as we age
  • Janssen, S. M. J., & Murre, J. M. J. (2008). Reminiscence bump in autobiographical memory.tautan